Ratusan Mahasiswa Universitas Trisakti Menggelar Aksi Unjuk Rasa di kawasan Jalan Medan Merdeka Selatan

 


JAKARTA - Demonstrasi mahasiswa terus berlanjut. Pada Kamis (29/10) sore, ratusan mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Jalan Medan Merdeka Selatan, atau sebelah selatan Monumen Nasional.

Hingga pukul 17.30 WIB, rombongan mahasiswa Trisakti masih meneriakkan yel-yel yang mengkritik pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

Titik lokasi aksi yang semula direncanakan berlangsung di depan Istana Negara berpindah karena mereka sempat diblokade aparat.

Seorang mahasiswa Universitas Trisakti berorasi di atas mobil komando menuntut keadilan bagi Papua yang kini juga dilanda kebakaran hutan dan lahan. Ia juga menyuarakan penghentian militerisme di Papua.

Di hadapannya, ratusan teman-temannya duduk. Hanya ada satu spanduk besar berisi tiga tuntutan utama dan sejumlah bendera berwarna hitam putih berkibaran yang bertuliskan "Bismillah, ini adalah kegelapan" dan "Dengan nama Tuhan, ini adalah kegelapan".

Ungkapan dalam bendera tersebut mengambil dari slogan yang ramai pada demonstrasi di Prancis belakangan ini, yaitu "Bismillah, c'est le ténebres".

Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti, Muhammad Putra, berkata tuntutan kali ini sejalan dengan peristiwa belakangan ini yang tidak segera ditangani, seperti kebakaran hutan dan lahan.

"Kami menuntut agar Karhutla ini segera ditetakan sebagai bencana nasional. Banjir Sumatra juga sudah hampir setahun. Tapi anggaran masih juga untuk MBG. Anggaran Rp1 triliun per hari untuk MBG itu bisa dialihkan ke penanganan bencana," tutur Putra.

Staf Khusus Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg), Bin Bin Firman Tresnadi, muncul di antara para peserta unjuk rasa. Bin Bin menjanjikan akan meneruskan tuntutan para mahasiswa tersebut.

"Karhutla ini akan segera saya sampaikan dan akan dibicarakan dengan Kemenkes. Karena ini hidup mati. Saya paham ini masalah," ujar Bin Bin.

Namun, rombongan mahasiswa Trisakti meminta tenggat waktu penyelesaian tuntutan mereka. Mereka meminta besok sudah ada tindak lanjut konkret yang diumumkan ke publik. Bin Bin tidak menyanggupi hal itu. Dia memberikan janji sekitar pekan depan.

Tidak puas, Dhenni dan teman-teman meminta Bin Bin membuat pernyataan 'siap mundur' jika janjinya tidak terwujud.

Dalam keterangan di media sosialnya, mahasiswa Universitas Trisakti menyatakan, mereka menggelar demonstrasi sebagai bentuk "tanggung jawab moral".

Kepresidenan Mahasiswa (Kepresma) Universitas Trisakti mengkritik sepak terjang penguasa.

"Atas nama pengabdian, ambisi dipelihara. Atas nama stabilitas, kritik dibungkam. Atas nama rakyat, kekuasaan dijalankan tanpa selalu mendengar jeritan mereka," demikian pernyataan mereka.

"Mereka bicara tentang demokrasi, tetapi gentar terhadap kritik. Menjanjikan kesejahteraan, tetapi membiarkan beban rakyat terus menumpuk. Menuntut kepercayaan, tetapi lupa bahwa kekuasaan wajib mempertanggungjawabkan setiap keputusan," tambah Kepresma Trisakti.

Sementara, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Trisakti (BEM FH Usakti) mempersoalkan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga tuntutan pemberantasan inkompetensi pejabat publik.

"Ketika hutan terbakar, rakyat terdampak. Ketika kebijakan bermasalah, rakyat menanggung akibatnya. Ketika kekuasaan gagal menjalankan tanggung jawabnya, mahasiswa tidak boleh memilih diam," tulis BEM FH Usakti dalam unggahannya.

BEM FH Usakti pun menetapkan tiga tuntutan utama atau tritura dalam aksi tersebut.

Pertama, memulihkan sektor ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, dan kesehatan nasional.

Kedua, memberantas inkompetensi serta menghapus rangkap jabatan pejabat publik.

Ketiga, menegakkan supremasi sipil.






Sumber : bbc.com

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © EraPublik.id. Designed by OddThemes